Haji merupakan sebuah perjalanan baru, usaha baru untuk dilahirkan kembali, untuk memuliakan Allah dan untuk memimpin hidup baru, yaitu hidup yang dipenuhi pengorbanan, pergerakan, dan perjuangan untuk membersihkan dunia ini dari ketidakadilan, dan pelanggaran atas martabat manusia.
~ Asghar Ali Engineer *

Pergi hajji merupakan salah satu dari delapan prinsip Islam, yang diwajibkan atas kaum muslimin sekali dalam hidupnya, yaitu bagi mereka yang sanggup memenuhi syarat-syaratnya.

Al-Qur’an yang mulia mengatakan, ”Mengerjakan hajji merupakan kewajiban atas manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah (Ka’bah). Barangsiapa yang mengingkari (kewajiban hajji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu dari Alam Semesta.” (QS Ali Imran [3] ayat 97)

Semua umat Islam, apapun mazhab yang mereka jalani, mewajibkan pelaksanaan Hajji sekali dalam hidup mereka. Yang menarik untuk dicatat adalah bahwa kewajiban ini tidak hanya dibebankan atas kaum pria, tetapi juga atas kaum wanita.

Wanita-wanita muslim dengan rasa gembira dan penuh semangat juga turut memenuhi panggilan Tuhannya untuk melaksanakan Hajji. Para pelaksana hajji berasal dari seluruh penjuru dunia, dari  jauh dan  dekat. Ada yang bepergian melalui daratan dan ada juga yang melalui lautan.

Pada zaman modern ini, kaum muslim lebih banyak yang pergi untuk melaksanakannya dengan menggunakan pesawat terbang. Sebagaimana shalat, zakat, puasa, dan ibadah ritual lainnya, tidak ada perbedaan kewajiban di dalam pelaksanaan hajji atas kaum pria mau pun atas kaum wanita.

Pada masa hajji dilaksanakan, kita melihat semua pria mau pun wanita berpakaian serba putih. Suatu pemandangan yang unik dan menarik!

Banyak orang dari kalangan non Muslim yang melihat pemandangan ini merasa takjub dan heran. Mereka melihat keanekaragaman kaum muslim dari belahan penjuru dunia di dalam kota suci Makkah sepanjang waktu Hajji.

Ada orang Islam yang berkulit hitam gelap, ada yang berkulit tidak terlalu hitam, ada yang kecoklat-coklatan, banyak juga yang berkulit putih atau kuning. Bahasa yang mereka gunakan pun berbeda-beda, sampai-sampai pada setiap pengumuman disampaikan dalam beberapa bahasa seperti bahasa Inggris, Perancis, Persia, Urdu, Hindi, Indonesia, Bengali dan lain-lain.

Di sanalah perasaan kesatuan yang besar antar keanekaragaman yang kaya ini terwujud. Kita teringat akan firman Tuhan : “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam!” ( QS Al-Isra’ [17] ayat 70).

Ini merupakan pendeklarasian martabat manusia dan deklarasi ini telah dibuat lebih dari empat belas ratus tahun yang lalu ketika segala macam diskriminasi justru dicanangkan baik di Timur mau pun di Barat.

Persamaan martabat dan hak-hak manusia yang diterompetkan dan diterapkan Islam bukan ingin menghapus perbedaan realitas seperti perbedaan suku, kebangsaan, bahasa, atau pun karakteristik masing-masing manusia. Perbedaan tersebut, bagi Islam, semata-mata merupakan semacam identifikasi dari masing-masing manusia.

Hai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang wanita dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.”(QS Al-Hujurat [49] : 13).

Dengan cukup mantap al-Quran yang suci menguraikan bahwa perbedaan bahasa dan warna kulit justru merupakan tanda-tanda (kebesaran) Allah.

Dan di antara tanda-tanda-Nya ialah Dia menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui”(QS Al-Rum [30] : 22)

Oleh karena itu perbedaan warna kulit atau pun bahasa masing-masing bangsa tidak bisa menjadi alasan untuk mendiskriminasi antar manusia. Al-Qur’an memerlakukan perbedaan bahasa dan warna kulit ini sebagai “tanda Allah’ yang harus sama dihormati.

Dengan demikian manusia yang berkulit hitam sama terhormatnya dengan manusia yang berkulit putih, karena keduanya adalah ciptaan Allah dan keduanya adalah tanda-tanda-Nya. Dan hanya paling mulia dan terhormat dalam pandangan Tuhan adalah mereka yang paling saleh dan yang paling bertaqwa.

Taqwalah yang menjadi dasar perbedaan di antara manusia dalam pandangan Allah. Selain taqwa tidak sama sekali. Inilah yang terlihat dalam simbol-simbol penghambaan dalam Hajji. Mereka semua yang datang berhajji adalah makhluk Allah, hamba-Nya dan pelayan-Nya. Semua orang yang datang berhajji disebut juga sebagai tamu Allah.

Mereka datang ke Rumah Allah (Baitullah) sebagai tamu-tamu-Nya dan semua tamu harus diterima dengan sama terhormatnya. Ketika para tamu Tuhan itu berbondong-bondong berjalan dengan pakaian yang sederhana dan serba putih, mereka terlihat seperti lautan ras manusia.

Pakaian ihram yang putih tersebut seolah menyimbolkan kepolosan mutlak, karena sesungguhnya setiap orang yang datang untuk berhajji tidak lain untuk membersihkan diri mereka sendiri dari semua dosa dan bertekad untuk tidak melakukan dosa apapun lagi.

Dengan pakaian yang putih tersebut seolah terlambangkan persamaan status antara yang miskin mau pun yang kaya. Putih, seperti sudah saya katakan, sebuah perlambang kesederhanaan, sehingga kita diharapkan mengubah sikap kita (para hajji) dari pola konsumtif, yaitu terjebak dalam perlombaan memperbanyak harta dan menumpuk kekayaan.

Islam tidak bermaksud menolak dunia atau materi sama sekali, tetapi Islam mendorong orang-orang untuk makan dan minum secara halal dan tidak berlebih-lebihan.

“Makan dan minumlah kalian, tetapi janganlah kalian berlebih-lebihan, sesungguhnya Dia tiada menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al-A’raaf [7] ayat 31)

Inilah filosofi yang benar untuk mengkonsumsi apa yang  halal tetapi tidak melebihi batas, demi memelihara keseimbangan.

Suatu konflik muncul ketika sebagian orang menumpuk lebih (harta atau bahan pokok) dibanding orang lain dan enggan berbagi dengan orang yang lain, bahkan menyingkirkan bagian orang lain dengan cara yang tidak adil. Hal ini merupakan penyebab utama konflik dan kezaliman di muka bumi.

Al-Qur’an menasehati manusia agar mereka memberikan sebagian kecil dari harta mereka yang berlebih. “Dan mereka bertanya kepadamu  apa yang (mesti) mereka infaqkan?” Katakanlah,”Yang lebih dari keperluan (al-’afw)”(QS Al-Baqarah [2] ayat:219)

Dan dengan cara yang sama mengutuk penimbunan kekayaan sebagaimana yang difirmankan Allah SwT, “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menginfaqkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.”(QS Al-Taubah [9] ayat:34).

Dengan begitu pakaian ihram yang putih melambangkan keikhlasan, pengekangan atau pengendalian di dalam pemakaian apa yang  halal dan baik serta penolakan atas penumpukkan harta dan sifat tamak.

Kata  Ihram sendiri bermakna pengekangan, atau larangan. Ihram bukan sekadar memakai selembar kain putih, tetapi juga menahan diri dari semua yang dilarang.

Ketika seseorang memakai ihram, ia tidak diperbolehkan membunuh bahkan seekor lalat sekali pun. Seseorang harus dengan serius mengamati  aturan-aturan ini, karena perkara-perkara seperti ini bukan sekedar simbolik tetapi juga memiliki pengertian substansiil.

Bahkan setelah melepaskan ihramnya,  seseorang tidak dibenarkan berbuat tidak adil, apalagi sampai membunuh. Dengan demikian, seseorang yang telah memakai ihram memiliki tanggung jawab yang besar. Jika tanggung jawab ini dipenuhi niscaya tidak akan ada konflik dan pertumpahan darah di muka bumi ini.

Ihram yang juga berarti pengendalian, mewajibkan pemakainya untuk senantiasa mengendalikan jiwanya dari tindakan-tindakan kejahatan, korup dan penindasan. Setiap orang yang telah berhajji memiliki tanggung jawab yang lebih tentang ini.

Memang benar putih merupakan lambang kemurnian, kepolosan dan kesucian. Akan tetapi hal itu sama sekali bukan menandakan keunggulan si putih atas si hitam.

Jika warna-warna ini menjadi simbol keunggulan yang satu dari yang lain, seseorang bisa saja mengatakan bahwa si hitam lebih unggul dari si putih, karena semua para hajji bertawaf mengelilingi Ka’bah yang hitam?

Atau semua para hajji berebut untuk dapat mencium batu Hajar al-Aswad yang juga hitam?

Dan salah satu rukun hajji adalah berlari-lari kecil (sa’i) dari Shafa ke Marwa, yang mana perbuatan ini merupakan napak tilas dari seorang budak wanita yang berkulit hitam dari Ethiopia, yaitu Hajar, isteri Nabi Ibrahim as, sekaligus ibunda Nabi Isma’il as?

Tentu saja simbol-simbol seperti ini bukan merupakan simbol supremasi hitam atas putih atau sebaliknya. Bukan juga supremasi laki-laki atas perempuan atau sebaliknya. Semua makhluk-Nya adalah ciptaan-Nya dan karenanya semuanya sama terhormat.

Yang perlu diperhatikan lagi adalah seruan para hajji,”Allahumma labbayk, labbayka Allahumma labbayk” : Ya Allah, inilah saya bersedia melayani Engkau”

Mereka menyerukan ini berulang-kali. Oleh karena itu, seruan ini menjadi hampir tidak bermakna jika seorang hajji tidak memahami maksud dari kata-kata tersebut.

Mereka yang menghayati makna seruan tersebut akan merasakan bahwa ia sedang mempersembahkan dirinya kepada Tuhan Semesta Alam dan ia akan siap melaksanakan segala titah Sang Maha Raja, Ilahi Rabbi.

Jika Allah menginginkan kebenaran dan keadilan ditegakkan oleh  hamba-hamba-Nya maka seseorang yang telah melakukan janji setianya kepada Tuhan mesti mengingat tanggung jawabnya itu. Sambil menegakkan kebenaran dan keadilan di muka bumi ini, ia pun mesti menegakkannya di dalam jiwanya.

Setelah ia mengenakan ihram, maka selamanya ia diharamkan berbohong, berjanji palsu dan berkhianat kepada manusia. Semua tindakan-tindakan keji, jahat dan zalim mesti ia jauhi sejauh-jauhnya.

Inilah makna sesungguhnya dari seorang hajji yang berpakaian ihram sambil berseru, “Ya Allah! Inilah hamba-Mu yang siap melayani engkau!” : “Labbayka Allahumma Labbayk!”

Sa’i atau berlari-lari kecil di dalam ibadah Hajji, adalah salah satu bagian (rukun) yang sangat penting, yang menandakan dinamika hidup, usaha yang tak kunjung letih untuk mengamankan apa yang dibutuhkan dalam hidup dan bukan untuk duduk tenang menunggu suatu keajaiban terjadi.

Hajar yang dulu haus dan tidak menemukan apapun tanda-tanda keberadaan mata air di sekitarnya tidak duduk tenang di suatu sudut dan berdoa untuk suatu keajaiban. Akan tetapi ia berlari-lari di sekitar tempat ia tinggal untuk mencari air demi memperolehnya.

Dengan demikian sa’i adalah simbol dari usaha terus menerus dalam hidup. Inilah hikmah sa’i yang sudah semestinya dipahami oleh para hajji.

Aspek penting Hajji lainnya adalah pergi ke ‘Arafah, di mana sepanjang hari doa pada tanggal 9 Zulhijjah, satu hari sebelum ‘Id al-Adha. ‘Arafah berarti pengetahuan; Jadi, perjalanan dari Mekkah ke ‘Arafah adalah suatu perjalanan menuju ke pengetahuan (ma’rifah).

Hajji merupakan merupakan suatu pergerakan yang konstan. Semua manasik (ritual-ritual) melibatkan pergerakan yang konstan. Hidup merupakan suatu pergerakan tetap, suatu perjuangan yang konstan, suatu perjalanan menuju pengetahuan, hidup tidak pernah statis.

Pengetahuan adalah cahaya (nur). Pelaksanaan hajji adalah berdoa sepanjang hari di padang Arafah dan ketika para hajji meninggalkan Arafah segera setelah matahari terbenam,  seolah-olah mereka berlari dari kegelapan, yaitu kegelapan kebodohan. Seorang hajji juga berkeliling mengelilingi Gunung Kemurahan Hati (Jabal al-Rahmah) di Arafah.

Di gunung inilah diriwayatkan Rasulullah menyampaikan khutbahnya yang terakhir. Di dalam khotbah ini, Nabi saww menegaskan bahwa seorang Arab tidak lebih mulia dari seorang non Arab (‘ajam) dan begitu juga sebaliknya.

Semua manusia diciptakan Allah dan semuanya sama dan sederajat. Hanya orang yang paling taqwa sajalah yang paling dihormati dalam pandangan Allah, bukan Arab atau ‘Ajami, hitam atau putih.

Beliau juga berpesan kepada pengikutnya untuk memerhatikan dan memberikan hak-hak Ahlul Bayt Rasulullah sebagaimana semestinya serta memerlakukan wanita-wanita [isteri-isterinya] secara wajar, menghormati hak-hak mereka. Khutbah ini merupakan pesan revolusioner bagi dunia di kemudian hari. Ini juga merupakan sebuah piagam hak azasi manusia yang diberikan kepada ras manusia beratus-ratus tahun yang lalu.

Kebenaran dan Kebebasan datang dari pengetahuan. Pengetahuan merupakan pondasi bagi kesadaran dan kebebasan datang dari kesadaran. Seseorang meninggalkan Arafah menuju  Masy’ar. Masy’ar diperoleh dari syu’ur – kesadaran. Dengan demikian pelaku hajji melakukan perjalanan dari Arafah ke Masy’ar – dari pengetahuan ke kesadaran.

Dari sana sang hajji datang ke Mina – sebuah tempat iman, cinta dan pengorbanan. Di Mina inilah ia membebaskan diri dari semua kejahatan dan malapetaka dengan melempari Setan dengan lemparan Jumrah dan  berkorban di jalan Allah.

Melempar Setan merupakan bagian (rukun) penting dari ibadah Hajji. Seseorang tidak bisa memperoleh kebaikan tanpa membuang kejahatan yang ada dalam dirinya. Setan – merupakan perwujudan kejahatan dan malapetaka – yang harus ditolak, harus dibuang dari dalam. Sepanjang masih ada jejak kejahatan di dalam diri seseorang, hajji menjadi tidak sempurna.

Penolakan sama pentingnya dengan penerimaan. Hidup tidak bisa lengkap tanpa penolakan, sama tidak lengkapnya jika ia tanpa penerimaan. Penerimaan pengetahuan tidaklah mungkin tanpa penolakan akan kebodohan (ketidaktahuan).

Ketika kita menolak tuhan-tuhan palsu, pada saat yang sama kita menerima Tuhan Yang Sejati. Ketika kita menolak kezaliman, maka pada saat yang sama kita menerima Keadilan.

Di Mina-lah haji akhirnya melepaskan semua kejahatan- yang besar, mau pun yang kecil. Para hajji melempar Setan Yang Besar, Yang Sedang, mau pun Yang lebih kecil dari itu. Semua harus dipukul, semua harus ditolak.

Bagi para hajji Iran, atau mereka yang berafiliasi dengan dengan pemikiran Imam Khomeini, Setan Besar, Setan Sedang dan Setan Kecil  itu diwakili oleh Amerika Serikat, Zionis Israel, dan para pendukung mereka. **]

Di Mina, binatang-binatang kurban dijadikan kurban. Namun bukan berarti Allah membutuhkan pengorbanan kita. Al-Qur’an yang mulia mengatakan, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah , akan tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”(QS Al-Hajj [22] ayat:37)

Sangat jelas bahwa kurban tidaklah dibutuhkan Allah, tetapi ruh pengorbanan, kebajikan, ketaatan dan penghambaan itulah yang penting. Kurban adalah simbol dari fakta bahwa seseorang tidak bisa luput daripada kejahatan tanpa pengorbanan.

Haji adalah suatu perjalanan baru, usaha baru untuk dilahirkan kembali, untuk memuliakan Allah dan untuk memimpin hidup baru, yaitu hidup yang dipenuhi pengorbanan, pergerakan, dan perjuangan untuk membersihkan dunia ini dari ketidak adilan, dan pelanggaran martabat manusia.

Imam Ali as mengatakan, “Pergi hajji dan umrah itu dapat menolak kefakiran, menghapus dosa-dosa dan memperoleh ganjaran surga.” (Bihar al-Anwar 77 : 290)

Reformasi merupakan sebuah koreksi atas penyelewengan, sedangkan revolusi merupakan sebuah transfer kekuatan ~ Edward Bulwer-Lytton

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.