Oleh: Fatchul Mu’in

PENGANTAR
Manusia adalah makhluk sosial yang senantiasa memerlukan bantuan manusia lain dalam kehidupannya. Hampir tidak dapat dibayangkan betapa berat dan sulitnya seandainya dia hidup seorang diri tanpa ada yang menemaninya. Dalam kenyataannya, manusia selalu hidup secara berkelompok dan mereka saling memerlukan bantuan atau pertolongan dan saling bekerja sama antara satu dengan yang lainnya. Dengan demikian, kita dapat membenarkan bahwa manusia merupakan makhluk sosial sebab dia harus hidup bermasyarakat.
Dalam upaya memenuhi segala kebutuhan hidup, manusia harus melakukan kerja sama antara satu dengan yang lainnya, yang hanya dapat dilakukan dalam suatu komunitas atau masyarakat. Sewaktu seseorang memerlukan beras, misalnya, dia tidak perlu menanam padi sendiri di ladang atau sawah. Yang menanamnya cukup para petani; dia dapat memperoleh beras dengan cara membeli dari mereka.
Seseorang mungkin memiliki kecakapan khusus dalam hal membuat alat-alat pertanian, misalnya: cangkul atau alat membajak, yang kemudian dapat dia jual kepada para petani untuk keperluan menggarap sawah mereka. Dari contoh ini, kita dapat memperoleh gambaran secara jelas bahwa para anggota masyarakat saling memerlukan pertolongan antara yang satu dengan yang lainnya. Karena ada saling ketergantungan itu, maka mereka perlu menjalin kerja sama dalam rangka untuk memenuhi kepentingan atau keperluan mereka sendiri.
Kerja sama antar mereka dapat berjalan dengan baik bila ada suatu alat komunikasi yang disebut bahasa. Dengan bahasa, manusia dapat mengungkapkan gagasan-gagasan dan keinginan-keinginannya kepada manusia lain dan menjalin kerja sama dengan sesama anggota masyarakat lainnya. Namun demikian, bahasa bukanlah satu-satunya alat yang dipergunakan manusia sebagai alat komunikasi sebab dia dapat juga melakukan komunikasi dengan isyarat, ekspresi wajah dan sentuhan. Bahasa merupakan alat komunikasi yang memanfaatkan simbol-simbol yang dapat didengar (auditory symbols) atau bunyi-bunyi ujaran (speech sounds), yang dihasilkan dengan alat ucap manusia (speech organs). Sedangkan isyarat (sejumlah orang menyebut ‘bahasa’ isyarat) berupa simbol-simbol visual, yang memiliki bentuk gerakan-gerakan anggota tubuh (badan) dan ekpresi wajah; isyarat ini kadang-kadang dipergunakan orang secara bersamaan dengan penggunaan bahasa dan kadang-kadang dipergunakan secara tersendiri atau tanpa bahasa. Isyarat dapat dikatakan sebagai pelengkap atau penunjang penggunaan bahasa.
Sistem komunikasi visual itu tidak memiliki struktur selengkap bahasa, dan oleh karena itu, ia tidak dapat disebut sebagai bahasa. Penggunaan isyarat sangat terbatas karena sifatnya yang visual itu. Sedangkan penggunaan bahasa sangat luas sebab disamping sifatnya yang dapat didengar, ia dapat divisualisasikan (dalam bentuk tertulis). Dengan demikian, bahasa dapat dipergunakan untuk menyampaikan pesan-pesan secara lisan dan secara tertulis. Jadi, jangkauan bahasa lebih luas ketimbang isyarat; bahasa lebih sering dipergunakan untuk berkomunikasi ketimbang isyarat; dan bahasa lebih lengkap ketimbang isyarat.
Dari diskusi di atas, kita dapat memetik tiga hal, yaitu: manusia, masyarakat dan bahasa. Tiga hal ini saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ini berarti bahwa di mana terdapat manusia, di situ selalu ada suatu masyarakat, dan dalam masyarakat itu selalu ada bahasa yang dipergunakan sebagai alat komunikasi oleh para anggota masyarakat tersebut. Keberadaan bahasa dalam masyarakat adalah sangat penting. Hal ini karena, dalam kenyataan, manusia sebagai makhluk sosial selalu hidup bermasyarakat dan memerlukan bahasa sebagai alat untuk berinteraksi dengan sesamanya.

BAHASA ITU ARBITRER
Bahasa dikatakan memiliki sifat arbitrer. Ini berarti bahwa bahasa (mula-mula diciptakan) atas dasar kesepakatan sosial (social agreement). Dalam kaitan ini, tidak ada penjelasan yang logis atau masuk akal, misalnya, mengapa seekor binatang tertentu yang biasanya dipiara orang, yang berkaki empat dan dapat menggonggong disebut dog dalam bahasa Inggris, asu dalam bahasa Jawa, atau anjing dalam bahasa Indonesia. Mungkin saja, suku atau bangsa yang lain menyebut binatang semacam itu dengan istilah yang berbeda. Dalam ini, pemberian nama terhadap binatang itu hanya didasarkan pada kesepakatan sosial antar penutur-penutur bahasa Inggris untuk menyebut dog, antar penutur bahasa Jawa untuk menyebut asu dan antar penutur bahasa Indonesia untuk menyebut anjing.
Lebih dari itu, sifat arbitrer itu juga dapat dilihat dari segi sistem gramatikal. Kata-kata dalam bahasa Indonesia, misalnya, harus disusun dengan order tertentu untuk membentuk konstruksi yang secara gramatikal dapat diterima. Misalnya, sejumlah kata: motor, Ali, naik, hari, setiap, tidak disusun secara sembarangan bila seseorang menginginkan konstruksi yang gramatikal. Kata-kata itu bisa disusun menjadi ‘Ali naik motor setiap hari atau ‘Setiap hari Ali naik motor’. (Dalam bahasa Indonesia, dimungkinkan keterangan waktu diletakkan pada posisi awal atau pun akhir). Bila kata-kata itu disusun dengan susunan ‘Ali motor naik hari setiap’ maka susunan itu tidak gramatikal. Tidak ada alasan yang logis mengapa penutur bahasa Indonesia menerima dan menggunakan susunan yang pertama dan bukan susunan yang kedua. Hal ini disebabkan bahwa sistem gramatikal pun didasarkan pada kesepakatan sosial dan oleh karena itu ia arbitrer.

PEMEROLEHAN BAHASA
Sejak manusia lahir ke dunia, sebenarnya, telah memiliki semacam kemampuan bawaan (innate ability). Baik para ahli sosiolinguistik maupun psikolinguistik mengakui bahwa kemampuan bawaam itu diacu dengan istilah Language Acquisition Device (LAD), alat pemerolehan bahasa. Kendati memiliki kemampuan bawaan, seorang anak tidak secara otomatis mampu berbahasa (berbicara) hanya karena dia itu manusia.
Kemampuan bawaan tidak ubahnya seperti potential seed yang harus ditumbuhkembangkan pada tempat yang cocok, yakni masyarakat sosial (social community). Jika kemampuan bawaan itu tidak dikembangkan secara benar, misalnya, jika seorang anak dipisahkan dari masyarakat dan terputus dari hubungan manusia (human relation), maka ia tidak akan mampu berbahasa dengan bahasa tertentu. Untuk memperoleh kemampuan berbahasa itu dia harus belajar bahasa melalui komunitas bahasa tertentu pula. Juga, pemerolehan kemampuan berbahasa ditentukan oleh komunitas bahasa di mana si anak tadi dibesarkan. Artinya, si anak dari suku Banjar, misalnya, tidak serta merta dia akan mampu berbahasa dengan bahasa suku itu. Bila dia dibesarkan di lingkungan komunitas bahasa Jawa, misalnya, dia akan berkemampuan untuk berbahasa Jawa. Atau, si anak dari keluarga atau suku Jawa yang dididik dan dibesarkan di lingkungan komunitas bahasa Perancis, dia akan berkemampuan untuk berbahasa Perancis sebagai bahasa yang digunakan di lingkungan sosial tempat dia dibesarkan.
Dengan demikian, persangkaan bahwa anak dari etnis Jawa akan pandai berbahasa Jawa, atau anak dari bangsa Perancis akan pandai berbahasa Perancis merupakan persangkaan yang keliru. Bila berpedoman dari persangkaan itu, orang akan menganggap bahwa kemampuan berbahasa merupakan soal keturunan. Hal yang sebenarnya adalah bahwa biarpun seorang anak berasal dari keturunan etnis Jawa, bila dididik dan dibesarkan dalam keluarga dan lingkungan yang bukan berbahasa Jawa, dia tidak akan memiliki kemampuan berbahasa Jawa, melainkan dia akan memiliki kemampuan berbahasa yang dipakai dalam keluarga dan lingkungan itu.

FUNGSI SOSIAL BAHASA
Bahasa dalam konteks sosial bukan halnya sebagai alat komunikasi tetapi ia juga merupakan alat yang pemting untu menciptakan dan mempertahankan hubungan antara orang yang satu dengan yang lainnya. Sebagai ilustrasi, misalnya, ada dua orang yang belum saling mengenal yang sama-sama berada di ruang tunggu di stasiun kereta api. Mereka, kemudian, mengadakan suatu pembicaraan yang dimaksudkan untuk mengurangi kegelisahan. Mereka saling bercerita, saling memberikan informasi. Di antara mereka terjadilah hubungan sosial, yakni: mereka telah saling mengenal. Di sinilah letak fungsi bahasa sebagai alat komunikasi dan pada saat bersamaan ia berfungsi sebagai alat untuk menciptakan hubungan sosial.
Jikalau mereka berdua itu berasal dari lingkungan geografis yang berbeda, misalnya, yang satu dari Sumatera (Batak) dan yang satu lainnya dari Jakarta (Betawi), maka logat bahasa yang mereka gunakan menunjukkan perbedaan. Bahasa mereka itu menunjukkan asal usul mereka. Bila seseorang telah mengenali logat tertentu sebagai logat Batak, Jawa, atau Betawi, maka dia akan mampu menebak bahwa penutur tertentu berasal dari Batak, Jawa, atau Betawi. Dalam hal ini, mungkin saja orang etnis Batak, Jawa, atau Betawi yang ada di Kalimantan Selatan menggunakan bahasa Banjar sebagai alat komunikasi dan interaksi sosialnya. Namun, tidak serta merta mereka akan diidentifikasi sebagai penutur bahasa Banjar asli atau beretnis Banjar. Sebab, sebagus apapun bahasa Banjar mereka, logat (lagu) bahasanya seringkali masih menunjukkan logat bahasa daerah mereka. Demikian pula, bila mereka menggunakan bahasa Indonesia, maka logat daerah mereka masih dapat dikenali dalam tuturan bahasa Indonesia mereka. Dalam kaitan ini, para ahli bahasa mengetengahkan istilah dialek regional (regional dialect), suatu variasi bahasa yang didasarkan pada daerah (tempat).
Di samping dialek regional, kita juga mengenal dialek sosial (social dialect). Dialek sosial ini mengacu pada variasi bahasa yang dipergunakan oleh sekelompok orang dari kelas sosial tertentu. Bila seseorang berasal dari kelompok pengusaha, maka dia biasanya mempergunakan variasi bahasa yang sering dipergunakan oleh kelompok itu.
Jika kita berpijak pada lingkungan fisik masyarakat di mana manusia itu berada atau tinggal, maka kita akan mendapat gambaran tentang refleksi lingkungan fisik dalam bahasa. Lingkungan fisik, misalnya, dapat direfleksikan dalam bahasa. Sebagai contoh, mesyarakat Eskimo banyak dikelilingi oleh salju. Bermacam-macam salju ada dalam masyarakat itu, sehingga untuk membedakan jenis salju yang satu dengan jenis yang lainnya mereka perlu kosa kata yang berbeda-beda. Pembedaan nama-nama salju, bagi masyarakat Eskimo, adalah penting. Hal ini karena lingkungan fisik mereka menuntut adanya pembedaan yang demikian itu. Sedangkan masyarakat yang hidup dekat equator tidak merasa perlu membedakan jenis-jenis salju dan oleh karena itu mereka hanya memiliki satu kata, yakni: salju.
Sementara itu, masyarakat Inggris hanya memiliki kata rice untuk menunjuk apa yang disebut oleh masyarakat Jawa sebagai pari, gabah, beras dan sega. Hal ini karena antara masyarakat Inggris dan Jawa memiliki kepentingan yang satu sama lain berbeda. Yang jelas, bahwa masyarakat Jawa lebih berkepentingan untuk menciptakan pembedaan kosa kata seperti di atas, karena pari, gabah, beras, dan sega dalam konteks budaya Jawa mengacu pada hal-hal yang berbeda. Bila dikaitkan dengan kegiatan tanam-menanam, dalam masyarakat Jawa pari akan digunakan (misalnya dalam konteks nandur pari); buah pari yang telah dipanen disebut gabah; gabah kering yang kemudian dikupas kulitnya melalui proses penumbukan atau penggilingan disebut beras; pecahan beras yang kecil disebut menir; dan beras digunakan untuk menyebut bahan mentah yang diap dimasak untuk menjadi sego, lontong, kopat dan sebagainya. Sementara itu, masyarakat Inggris menyebut pari, gabah, beras, menir, dan sega dengan satu kata, yakni: rice.
Di samping lingkungan fisik, lingkungan sosial pun dapat direfleksikan dalam bahasa, dan sering memiliki efek terhadap kosa kata. Sebagai misal, suatu sistem kekerabatan dari masyarakat tertentu biasanya direfleksikan dalam kosa kata kekerabatan. Kita dapat mengatakan betapa pentingnya kosa kata kekerabatam masyarakat tutur bahasa Banjar sehingga mereka memiliki banyak kosa kata kekerabatan itu. Masyarakat tutur ini memiliki kosa kata kekerabatan (dari angkatan atas): muyang, muning, waring, anggah, datu, kai, abah, anak, cucu, buyut, intah, cicit, muning dan muyang. Di samping itu, ada beberapa kosa kata: uma, julak, gulu, paman, dan acil. Ada juga sejumlah kosa kata: ading, laki, bini, ipar, marui dan warang. (Suryadikara, 1989). Masyarakat tutur bahasa Inggris memiliki kosa kata kekerabatan: son, daughter, grandson, granddaughter, brother, sister, father, mother, husband, wife, grandfather, grandmother, uncle, aunt dan cousin (Trudgill, 19…).

Hambatan Kultural dalam Berbahasa
Tata nilai (system of values) dari suatu masyarakat dapat juga berpengaruh terhadap bahasanya. Hal yang demikian ini dapat kita lihat lewat fenomena tabu. Tabu mengimplikasikan adanya ‘larangan’. Kata-kata yang mengandung unsur tabu dilarang diucapkan atau dianggap tidak pantas atau tidak baik bila di sembarang tempat. Kata-kata semacam itu bila diucapkan di hadapan orang banyak dikategorikan sebagai hal yang memalukan dan oleh karena itu dilarang. Masyarakat kita tentu saja menganggap tabu bila mengucapkan alat vital orang laki-laki sesuai namanya. Biasanya kita menggantikannya dengan menyebut burung atau senjata tajam. Penyebutan dengan cara ini pun masih terasa ketabuhannya (Trudgill, 19….).
Faktor yang kedua adalah faktor yang berasal dari pertimbangan komunikasi. Bahasa digunakan manusia untuk alat komunikasi dalam upayanya berinteraksi dengan sesamanya. Dalam kenyataannya, dia tidak bebas sama sekali. Ada seperangkat peraturan berbahasa yang telah disepakati oleh masyarakat di mana dia hidup dan bergaul dengan anggota-anggota lain sesuai dengan tata-nilai yang menjadi pedoman mereka dalam upayanya berinteraksi dengan sesamanya. Dalam kenyataannya, dia tidak bebas sama sekali. Ada seperangkat peraturan berbahasa yang telah disepakati oleh masyarakat di mana dia hidup dan bergaul dengan anggota-anggota lain sesuai dengan tata-nilai yang menjadi pedoman mereka. Pertimbangan komunikasi ini menentukan apakah dia akan bertutur dengan tunggal-bahasa, melakukan interferensi, atau alih-kode/campur kode (Soetomo, 1985).
Interferensi dan alih kode bahkan campur kode dapat dilihat dari dua contoh kalimat berikut:
(1) Nuwun sewu, saya bisa mengganggu sebentar?
(2) Ulun mencari piyan di kampus kemarin, piyan sudah bulikan.
Andaikan saja, baik kalimat (1) maupun (2) diungkapkan dalam speech act berbahasa Indonesia, maka dengan demikian bahasa Indonesia sang penuturnya mendapat ‘gangguan’ dari bahasa Jawa untuk kalimat (1) dan bahasa Banjar untuk kalimat (2). Ini berarti bahasa Indonesia kedua penutur itu mendapat interferensi dari bahasa Jawa atau Banjar. Jadi, gejala interferensi kita lihat dari bahasa penerima (dalam hal ini: bahasa Indonesia). Bila, baik penggunaan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia atau bahasa Banjar dan bahasa Indonesia kita lihat sebagai penggunaan dua bahasa secara berselang-seling, maka berarti kita menemukan gejala alih kode atau campur kode.
Andaikan saja lagi, bahwa kedua penutur tersebut telah menjadi dwibahasawan-dwibahasawan seperti yang disarankan oleh Bloomfield, yakni yang kedwibahasaannya memenuhi kriteria “native-like control of two languages”. Penutur pertama, misalnya, memiliki kemampuan dan penguasaan terhadap baik bahasa Jawa maupun bahasa Indonesia dengan sama baiknya, sama kelancarannya, dan sama akurasinya, dan demikian juga penutur yang kedua. Pendek kata, kedua penutur ini tidak memiliki persoalan kebahasaan. Dengan demikian, ‘penyimpangan’ dalam berbahasa Indonesia itu bukan akibat ketidakmampuan mereka menggunakan bahasa Indonesia, tetapi ia merupakan akibat dari faktor sosial budaya yang melingkungi penutur-penutur tersebut.
Jika dikatakan bahwa bahasa merupakan sistem simbol atau tata lambang, maka ia dapat mengacu tata lambing konstitusi, kognisi, evaluasi dan ekspresi. Tata lambang konstitusi adalah tata lambang yang bertalian dengan kepercayaan manusia terhadap Tuhan yang menentukan hidup dan kehidupan manusia atau terhadap kekuatan supernatural di luar kekuatan manusia. Tata lambang kognisi adalah tata lambing yang dihasilkan manusia dalam upayanya untuk memperoleh pengetahuan terhadap segala sesuatu di lingkungannya. Tata lambang evaluasi adalah tata lambang yang bertalian dengan nilai baik-buruk, betul-salah, pantas-tak pantas dan sebagainya. Tata lambang eskpresi adalah tata lambang untuk mengungkapkan perasaan atau emosi manusia (Soetomo, 1985).
Sebagaimana diketahui bahwa bahasa dan budaya merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Hal ini karena bahasa merupakan salah satu unsur budaya, sedangkan budaya itu sendiri adalah sesuatu yang sebagiannya diformulasikan dalam bentuk bahasa.
Budaya memberikan pedoman bagi masyarakat yang memilikinya. Ia mengajarkan bagaimana manusia harus bertingkah laku, termasuk bertingkah laku dalam berbahasa. Sebagian tata cara bertingkah laku itu dapat diungkapkan dengan bahasa. Jadi, di sini terdapat kesulitan untuk membedakan atau memisahkan bahasa dari budaya atau budaya dari bahasa.
Menurut teori Parsons (dalam Soetomo, 1985) tingkah laku (berbahasa) manusia telah diatur oleh human action system. Sistem tindak manusia ini memiliki empat sub-sistem: budaya, sosial, kepribadian, dan tingkah laku manusia. Karena nilai-nilai yang terkandung dalam sistem itu telah tertanam kuat pada diri seorang penutur bahasa (Jawa, misalnya), maka dapat saja dia terhambat oleh kultur Jawa-nya ketika dia berbahasa Indonesia.
Sebagai contoh, dalam suatu interaksi verbal antara dua orang yang dilakukan dalam bahasa Indonesia, tiba-tiba penutur A menyelipkan beberapa buah kata asing (non bahasa Indonesia) dalam tuturannya. Tingkah laku berbahasa ini dapat dinilai berdasarkan sumber-sumber penyebabnya. Masuknya unsur asing ke dalam tuturan A tadi dapat disebabkan oleh kebiasaan atau kemudahan pengucapan semata. Di sini, (sub) sistem tingkah laku adalah penyebab masuknya unsur asing itu dalam tuturan A tersebut.
Tetapi, masuknya unsur asing itu dapat saja disengaja oleh A sebagai upaya untuk memperlihatkan perasaan (sikap, motivasi, pengalaman dan sebagainya) kepada penutur B. Dalam hal ini (sub) sistem kepribadian penutur adalah penyebab penggunaan unsur asing dalam tuturan bahasa Indonesia yang disampaikan oleh A tersebut.
(Sub) sistem sosial dapat pula menjadi sumber hambatan, bila penutur A tadi menonjolkan status dan peranannya dalam interaksi verbal itu. Umpamanya, seorang pengacara ingin menyelipkan register hukum dalam tuturan bahasa Indonesia-nya akan memperingatkan lawan tuturnya, B, untuk selalu sadar akan posisi A maupun posisinya sendiri dalam hubungan peran itu.
(Sub) sistem budaya (dalam kaitan dengan bahasa sebagai tata lambang: konstitusi, kognisi, evaluasi, dan ekspresi, sebagaimana terurai di atas) dapat menjadi hambatan dalam berbahasa. Oleh karena suatu komunitas tutur kebetulan mengangkat bahasa daerah atau asing tertentu lebih tinggi nilainya daripada bahasa Indonesia karena mampu mengungkapkan konsep atau ide secara lebih tepat dan teliti, maka penyelipan unsur-unsur bahasa daerah atau asing dalam tuturan bahasa Indonesia-nya akan dianggap orang lebih baik.
Hambatan kultural yang lain dapat dilihat, misalnya, dari kasus tindak berbahasa (speech act) yang terjadi antara penutur dari suku Sunda dan Banjar. Penutur bahasa Sunda yang tentu saja berlatar belakang bahasa Sunda, artinya dia merupakan dwibahasawan Sunda-Indonesia. Sementara, penutur bahasa Banjar yang tentu saja berlatar belakang bahasa Banjar, artinya dia merupakan dwibahasawan Banjar-Indonesia. Kedua bahasa daerah ini sama-sama memiliki kata bujur. Kata bujur dalam bahasa Sunda berarti pantat dan harus ditabukan, dalam arti tidak dapat diucapkan di sembarang tempat (misalnya, di hadapan orang banyak). Sementara kata bujur dalam konteks bahasa Banjar berkonotasi baik. Hambatan kultural terjadi bila penutur yang berlatar belakang budaya / bahasa Sunda mendengar atau menggunakan kata bujur, walaupun sekarang dia telah memahami arti kata bujur dalam konsep bahasa Banjar, namun tetap saja dia merasa berdosa bila dia mengucapkan kata tersebut karena ini berarti melanggar aturan atau nilai dari kulturnya sendiri.
Kata sare, dahar (misalnya) dalam konsep bahasa Jawa tidak dapat dipakai secara sembarangan. Kata-kata itu harus digunakan sesuai dengan peserta tutur, siapa penuturnya dan siapa pula lawan tuturnya. Untuk menyapa atau membicarakan orang yang lebih tua, kata-kata itu dapat saja dipakai, namun tidak dapat dipakai untuk membicarakan diri sendiri atau anak-anak kecil. Kalimat ‘Kulo dahar rumiyen’ adalah contoh kalimat yang tidak dibenarkan oleh kultur Jawa karena kata ‘kulo’ tidak boleh ditinggikan (dengan menggunakan kata ‘dahar’). Penggunaan yang benar, contohnya, adalah ‘Bapak dahar’ atau ‘Monggo dahar rumiyen’. Kedua kalimat ini digunakan untuk membicarakan atau menyapa orang lain yang lebih tua atau lebih tinggi derajat sosialnya.

Speech Act dalam Situasi Keanekabahasaan
Penggunaan bahasa dalam situasi keanekabahasaan atau multilingualisme telah banyak mendapat perhatian dari ahli bahasa. Fishman, misalnya, mengkaitkan penggunaan bahasa semacam itu dengan Who speaks What language to Whom and When (1972:244). Sementara Pride dan Holmes mengatakan bahwa speech act yang terjadi pada masyarakat multilingual akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor non-kebahasaan seperti: partisipan, topik pembicaraan, setting, jalur, suasana dan maksud (1972:35)
Gagasan dari kedua ahli itu sebenarnya mengandung maksud yang mirip. Kemiripan itu dapat diilustrasikan sebagai berikut. Ungkapan who speaks (penutur) dan to whom (lawan tutur) menyaran pada orang yang melakukan speech act; keduanya disebut partisipan. What language menyaran pada pemilihan bahasa yang dilakukan oleh partisipan. Pemilihan bahasa berkaitan dengan topik pembicaraan. Artinya, seorang partisipan memilih bahasa tertentu (dari sejumlah bahasa yang dikuasainya) karena topik pembicaraannya lebih tepat diungkapkan lewat bahasa itu. Pemilihan bahasa juga dipengaruhi oleh waktu dan suasana (Fishman menyebut when) dan setting. (Menurut Pride dan Holmes, setting menyaran pada waktu dan tempat).
Penggunaan bahasa-bahasa (setidak-tidaknya dua bahasa) secara berselang-seling dapat ditanggapi dari perspektif sosiolinguistik/sosiologi bahasa. Penggunaan dua bahasa atau lebih (gandabahasa atau multibahasa) secara berselang seling semacam ini menimbulkan fenomena alih-kode. Menurut Istiati Soetomo (1985), tindak berbahasa yang ideal adalah bahwa bila seseorang berbahasa, maka bahasa yang digunakan adalah satu bahasa (dari sekian bahasa yang dia kenal dan kuasai) yang baik dan benar. Durdje Durasid (1990) menyatakan bahwa berbahasa yang baik adalah berbahasa yang mengandung nilai rasa yang tepat dan sesuai dengan situasi penggunaannya, sedangkan berbahasa yang benar adalah berbahasa yang secara cermat mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku. Ini berarti bahwa bila seseorang berbahasa dalam situasi tertentu, dengan menggunakan bahasa tertentu (bahasa Indonesia, misalnya) maka hendaknya unsur-unsur atau kaidah-kaidah dan sejenisnya dari bahasa-bahasa lain yang dikuasainya tidak dimasukkan dalam tuturan bahasa Indonesia-nya. Bila dalam situasi lain, dia memanfaatkan bahasa lain (bahasa daerah), maka hendaknya bahasa daerah itu tidak terselepi oleh simbol-simbol atau kaidah-kaidah dari bahasa-bahasa lain.
Dalam perspektif sosiolinguistik/sosiologi bahasa ini, fenomena alih kode dilihat dari pemakai bahasa sebagai makhluk sosial yang hidup dalam masyarakat yang berbudaya. Dalam kaitan ini, seseorang yang melakukan alih kode (mungkin berwujud alih bahasa, alih dialek, alih register, alih gaya, alih nada dan sebagainya) bukan berarti dia tidak mampu berbahasa dengan salah satu bahasa dari bahasa-bahasa yang dikuasainya. Bahasa digunakan oleh manusia untuk alat komunikasi dalam upayanya berinteraksi dengan sesamanya. Dalam kenyataannya, dia tidak bebas sama sekali. Sebab, ada seperangkat peraturan berbahasa yang telah disepakati oleh masyarakat di mana dia hidup dan bergaul dengan anggota-anggota masyarakat lain sesuai dengan tata nilai budaya yang menjadi pedoman hidup mereka. Dia “harus” melakukan alih kode lantaran nilai budaya masyarakatnya, misalnya, “menghendaki” hal itu.

Alih Kode oleh Penyiar Radio
Menyikapi penggunaan bahasa Indonesia di radio, khususnya radio swasta, di mana sejumlah penyiarnya seringkali melakukan alih kode (ke dialek Betawi) atau menyilipkan istilah-istilah/kata-kata bahasa Inggris, hendaknya kita tidak serta merta menyatakan bahwa tindak berbahasa itu tidak benar dan penuturnya tidak mampu berbahasa Indonesia secara baik dan benar yang cenderung untuk mengangkat prestise-nya dengan cara menggunakan unsur-unsur bahasa selain bahasa Indonesia. Banyak faktor yang menyebabkan yang bersangkutan berbahasa seperti itu.
Seorang penyiar radio menyelipkan dialek Betawi, misalnya, karena, mungkin, khalayak pendengarnya menghendaki dialek itu. Sebab, mungkin, dialek Betawi dianggap berkesesuaian dengan selera pendengarnya. Dalam hal ini faktor pendengar menjadi penyebabnya, yakni penggunaan atau pemilihan dialek tertentu dilakukan untuk memenuhi ‘tuntutan’ pendengarnya..
Bila dilihat dari sudut penyiarnya, mungkin, yang bersangkutan ingin mengidentifikasikan diri sebagai penutur berprestise tinggi seperti layaknya para selebritis di Jakarta. Dengan menggunakan dialek Betawi, lalu dia berkeyakinan bahwa prestise-nya akan naik maka faktor penyebabnya adalah motivasi, yakni motivasi dalam rangka untuk mencapai prestise melalui penggunaan bahasa (dialek) tertentu.
Mungkin saja, alih bahasa atau dialek itu disebabkan oleh faktor-faktor lain, misalnya, yang berkaitan dengan sosial budaya (hubungan status-peranan sosial, sistem nilai dan sebagainya ) dari masyarakat tertentu. Seorang penyiar yang menyelipkan unsur-unsur dari bahasa daerah, misalnya: ulun, piyan (bahasa Banjar), dan nuwun sewu, semonggo, sugeng midangetakan (bahasa Jawa) yang memancarkan konotasi hormat, hendaknya kita pahami sebagai tindak berbahasa yang dilandasi oleh “keharusan social-budaya” di mana penutur itu harus berlaku hormat terhadap para pendengar pemilik bahasa itu (faktor sosial budaya).