Baca : 1 Samuel 13:1-14

Alkisah pada masa Dinasti Song, ada seorang petani yang sangat tidak sabar menantikan menuainya ladang padi miliknya. Akhirnya ia berpikir, “Jika saya menarik-narik padi itu ke atas, bukankah saya membantunya bertumbuh lebih cepat?”

Lalu ia menari-narik semua padinya. Sampai di rumah, dengan bangga ia bercerita kepada istrinya bahwa ia baru membantu padinya bertumbuh lebih cepat.

Keesokan harinya ia pergi ke sawah dengan bersemangat, tetapi betapa kecewanya ia ketika melihat bahwa padi yang kemarin ditariknya itu sudah mati. Karena tidak sabar, “usahanya untuk membantu” malah membuatnya rugi besar.

Demikian pula dengan Saul, raja Israel. Sebelum Saul maju berperang ke Gilead melawan bangsa Filistin, Samuel sudah berpesan bahwa ia akan datang kepada Saul untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN supaya TUHAN menolong bangsa Israel untuk memenangkan peperangan tersebut. Samuel meminta Saul menunggu ia datang untuk memberi instruksi (1 Samuel 10:8). Namun, Saul tidak mengindahkan perintah Samuel maupun perintah TUHAN. Ia tidak sabar menunggu Samuel. Ia “lebih takut” ditinggalkan rakyatnya dari pada “takut kepada TUHAN”. Ketidaksabarannya membawa dampak yang fatal; TUHAN menolaknya sebagai raja (ayat 14).

Dalam hidup ini, kita seringkali tidak sabar menunggu waktu TUHAN. Ketika dalam hidup kita rasanya pertolongan TUHAN tak kunjung tiba, jangan tergesah mengambil keputusan sendiri. Bukannya menyelesaikan masalah, malah mendatangkan masalah baru yang lebih besar! Akar ketidaksabaran adalah “tidak percaya”. Jika kita sungguh-sungguh percaya TUHAN sanggup menolong kita, kita akan menanti Dia dengan sabar.