Saya ingat ketika pertama kali saya menjadi seorang Kristen. Saya adalah seorang pelajar di SMU, dan paman saya memberikan berbagai buku yang banyak ditulis oleh penulis-penulis Kristen. Saya banyak belajar tentang Alkitab, tetapi itu didasarkan pada apa yang dikatakan orang-orang tersebut kepada saya. Daripada membaca itu untuk diri sendiri, saya berpegang pada pendapat orang lain. Ketika saya terlibat dengan pelayanan ini, saya terkejut dan terkesan oleh bagaimana mereka menolong saya belajar bagaimana mempelajari Alkitab untuk diri saya sendiri. Saya merasa sangat dikuatkan dan percaya diri dalam kemampuan saya untuk memakai sarana penyelidikan yang diberikan kepada saya.

Beberapa tahun kemudian, salah satu dari sahabat karib saya terbunuh sementara melayani di Angkatan Darat di Afganistan. Kematian sahabat karib saya Brett adalah hal yang tragis dan sangat menyakitkan. Sementara saya melewati masa-masa sulit ini, saya diingatkan tentang betapa kehadirannya menjadi berkat yang sangat besar dan bagaimana dia menjalani hidupnya untuk Kristus. Saya bergabung dengan banyak sahabat Brett pada malam setelah kematiannya untuk menangis bersama, membagi cerita, tertawa, dan mengenang sahabat kami yang terkasih. Kisah demi kisah mengalir tentang bagaimana orang merasa dikasihi oleh Brett dan betapa dia selalu bersukacita.

Dua tahun berlalu, saya masih mengenang Brett sebagai sebuah teladan yang menakjubkan tentang seseorang yang menjalani hidup kasih.Warisannya menginsyafkan saya agar lebih mengasihi, lebih memberi, dan lebih berfokus pada orang lain dari pada diri saya sendiri. Belum lama ini saya telah kembali ke dasar-dasar saat teduh pribadi saya dalam Firman Tuhan, dan apakah yang lebih dasar dari pada mengasihi Tuhan dan sesama?

Mungkin Anda tidak asing lagi dengan ayat-ayat berikut, yang merupakan dasar jika kita ingin mengerti Kekristenan yang sesungguhnya:

Matius 22:37-39
(37) “Kasihilah Tuhanmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
(38) Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
(39) Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Orang yang datang kepada Yesus bertanya kepada-Nya hanya perintah yang pertama dan terbesar. Lalu mengapa Yesus menambahkan perintah yang kedua dalam jawaban-Nya? Karena kedua perintah itu tidak dapat dipisahkan, dan di dalam kedua perintah itu terdapat satu-satunya cara untuk mengetahui tingkat seseorang mengasihi Tuhan yaitu melalui bagaimana dia memperlakukan sesamanya.

Seiring dengan ini, belum lama ini saya melihat beberapa ayat dalam 1 Yohanes yang menikam batin saya. Ayat-ayat ini menyampaikan sedikit lebih jelas bagaimana perintah yang terbesar dan perintah kedua bekerja sama.

1 Yohanes 4:20 dam 21
(20) Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Tuhan,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Tuhan, yang tidak dilihatnya.
(21) Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Tuhan, ia harus juga mengasihi saudaranya.

Ayat-ayat ini sangat jelas: Satu-satunya cara untuk mengukur kasih seseorang kepada Tuhan adalah melalui bagaimana dia memperlakukan orang lain. Hal ini mungkin merupakan kenyataan yang tajam bagi Anda, seperti yang terjadi juga pada saya. Jika Anda bertanya kepada orang Kristen pada umumnya apakah dia mengasihi Tuhan, mungkin dia akan menjawab, “Tentu saja.” Saya tahu saya ingin berpikir bahwa saya selalu mengasihi Tuhan, tetapi dengan jelas Alkitab berkata bahwa jika saya tidak mengasihi saudara saya, saya tidak sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Sungguh suatu standar yang sulit untuk dilakukan! Ataukah tidak demikian?

Pikirkanlah. Seluruh Alkitab memiliki tema yang utuh yang sudah dirajut Tuhan di dalam setiap lembar benang, dan itu adalah kasih. Kadang kala saya tidak yakin bagaimana saya harus bersikap dalam suatu situasi khusus, atau apakah kehendak Tuhan di dalamnya, tetapi saya dapat yakin satu hal, saya selalu diharapkan untuk mengasihi.

Jadi, apakah Anda sungguh mengasihi Tuhan? Apakah Anda sungguh-sungguh mengasihi orang lain? Dapatkah orang lain melihat kasih Kristus di dalam saya? Saya mengajukan pertanyaan sulit ini karena saya mengajukannya untuk diri saya sendiri. Sebagian besar hidup Kristen saya, saya berfokus untuk memperoleh sebanyak mungkin pengetahuan dari Firman yang tertulis, tetapi apakah gunanya pengetahuan itu jika saya tidak berjalan di dalam kasih?

1 Korintus 13:1-3
(1) Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
(2) Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.
(3) Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.

Apakah Anda memperhatikannya? Tuhan tidak peduli dengan berapa banyak pengetahuan yang Anda miliki atau seberapa besar iman Anda tetapi Dia melihat bagaimana Anda mengasihi orang lain. Saya tidak merendahkan pentingnya mengenal Firman yang tertulis, tetapi saya memberi penekanan tentang pentingnya mengasihi orang dengan perkataan dan perbuatan.

1 Yohanes 3:18
Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

Saya tidak mau hanya “berkata” bahwa saya mengasihi orang lain; saya ingin hidup saya menjadi hidup kasih, yang dibuktikan dengan tindakan saya. Jika Anda memandang diri Anda adalah orang yang penuh kasih, Anda dapat bertanya pada diri sendiri, “Apakah yang sudah saya perbuat yang menunjukkan kasih?” Apakah yang sudah Anda perbuat dalam bulan ini? Saya rasa bahwa “Peraturan Emas” yang terkenal itu memberikan sebuah tolok ukur kepada setiap manusia untuk mengetahui apakah kasih itu dan apakah yang bukan kasih, di mana masing-masing kita mengetahui bagaimana rasanya mengasihi, dan kita dapat menerapkannya sebagai standar untuk memperlakukan orang lain. Kita sekalian dapat mengingat kembali kepada suatu waktu di mana kita merasa dikasihi, meskipun itu dalam hal yang sangat kecil.

Saya menantang Anda untuk melihat secara saksama tentang apakah artinya mengasihi orang lain dengan kasih sejati dan alkitabiah. 1 Korintus 13 adalah tempat yang luar biasa untuk memulainya.

1 Korintus 13:4-8a
(4) Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
(5) Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
(6) Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.
(7) Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.
(8) Kasih tidak berkesudahan

… Sebagai orang-orang Kristen, kita dipanggil untuk menjadi saksi bagi Tuan Yesus Kristus, dan entah kita suka atau tidak, orang-orang yang belum percaya akan memperhatikan cara kita menjalani hidup kita. Banyak dari mereka mendasarkan persepsi mereka tentang Kekristenan pada bagaimana mereka melihat orang Kristen bertindak, dan di dalam pendapat saya, orang-orang Kristen adalah salah satu alasan terbesar mengapa beberapa orang menolak Kekristenan. Banyak yang menyatakan bahwa dia mengikut Yesus tidak mengasihi seperti yang Dia lakukan. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh. 13:35).

Kasih dapat melakukan hal-hal yang menakjubkan. Kasih dapat memperbaiki masalah, menyambung hubungan, dan mengubah hati.

Berikut ini adalah dua ayat yang menunjukkan kuasa kasih:

Amsal 10:12
Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.

1 Petrus 4:8
Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.

Untuk menutup pandangan yang singkat ini tentang beberapa keinsyafan dalam hati saya, saya meminta Anda untuk mengasihi. Kasih yang tidak berasal dari rasa bersalah atau kewajiban, tetapi dengan hati yang murni yang tahu apa yang dikatakan Alkitab dan berjanji untuk mengubah hidup. Sahabat karib saya Brett menjalani hidup kasih, dan orang-orang mengenang dia karena kasih yang ditunjukkannya. Saya menginginkan hal itu dalam hidup saya, dan saya yakin Anda juga. Semoga kita sekalian berjuang untuk mengasihi Tuhan, dan sesama, sepanjang hidup kita. Dia berjanji bahwa itu berharga.